jump to navigation

Mahasiswa Geologi itu……… Maret 24, 2017

Posted by ahmad in home.
trackback

Menurut saya apabila ada seseorang yang pernah merasakan asam manisnya kuliah di teknik geologi, saya yakin orang tersebut tidak akan mengatakan “saya menyesal pernah kuliah di teknik geologi, seandainya saya dulu………, mungkin sekarang ………….”

Cerita pengalaman mengenai kuliah geologi itu bukan cerita soal bagaimana cara duduk manis di kelas sambil mendengarkan dosen mengajar, pun bukan soal mengerjakan tugas di kosan, lalu ujian, pulang, dan kemudian tiba-tiba saja bisa meraih IPK diatas 3.

Bagi yang pernah merasakan kuliah di teknik geologi saya yakin 100% kalau keringat mereka selama kuliah itu sudah berceceran dimana-mana, di gunung, di sungai, di hutan, di laut, bahkan di bawah tanah, sehingga saya percaya siapapun mereka, pasti akan merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa saat mereka lulus dan menjadi bagian dari alumni teknik geologi, tentu saja, karena apa yang telah mereka dapatkan selama kuliah bukan hanya sebatas angka-angka, tapi pengalaman yang luar biasa selama di uji di lapangan. Oleh karena itu saya masih meyakini tidak akan pernah ada alumni teknik geologi yang benar-benar menyesal pernah belajar geologi.

gambar

Pelajaran yang saya dapatkan selama kuliah di teknik geologi adalah “kerja bersama-sama dan pantang menyerah. Kuliah geologi memang tidak mudah, pekerjaan lapangan dan analisis geologi adalah hal yang penuh perjuangan, oleh karena itu di teknik geologi saya belajar untuk selalu mencoba apapun, pantang menyerah, dan saling mendukung.

Perubahan Metode Belajar

Sewaktu SMA saya lebih senang belajar dan mengerjakan soal sendirian atau dengan metode otodidak. Namun semenjak kuliah di Teknik Geologi, saya lebih banyak menggunakan metode diskusi, dan teknik analitik deskriptif dalam mengerjakan soal-soal kuliah saya.

Perubahan metode belajar tersebut saya pikir terjadi karena dua hal; yaitu karena intensitas kebersamaan dengan teman-teman di lapangan, dan karena sifat ilmu geologi itu sendiri, yang secara tipikal keilmuan merupakan ilmu yang bersifat “multi-interpretasi”.

Soal-soal teknik geologi adalah kasus-kasus fenomena alam, sedangkan alam itu sendiri bersifat dinamis, sehingga dalam pemecahan kasusnya seringkali timbul beda pendapat, dari perbedaan pendapat itulah terjalin diskusi dan tidak jarang hingga kami berdebat dalam menganalisis “sebab-akibat” terjadinya suatu fenomena geologi tersebut.

Interpretasi dan diskusi adalah satu hal yang positif bagi rekan-rekan mahasiswa geologi, 2 hal ini merupakan modal besar untuk menjadi seorang geologist. Dengan interpretasi maka pola pikir kita akan menjadi terbuka, intuisi dan insting ke-geologian kita akan semakin kuat, sementara itu dengan diskusi maka kita membiasakan diri untuk bisa menerima kritik dan masukan untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

Kesimpulanya bahwa perubahan metode belajar tersebut membawa dampak positif bagi kehidupan saya. Dalam kenyataan di dunia pekerjaan, sesungguhnya setiap persoalan yang kita hadapi bukanlah tipe soal eksak yang jawabannya adalah PASTI bernilai “x”, tapi selalu ada variable atau celah untuk kemungkinan lain dapat terjadi. Jadi kalau saya boleh bilang problem pekerjaan dan kehidupan itu seperti juga menjawab soal-soal geologi yaitu bersifat “multi-interpretasi”

Oleh karena itu saya selalu men-support diri saya sendiri bahwa persoalan seberat apapun di dalam dunia pekerjaan akan bisa di selesaikan bila pikiran kita terbuka, terjalin komunikasi, keterbukaan, diskusi dan tentunya dilakukan secara bersama-sama.

Rasa ingin tahu, Menulis, dan Desain Grafis

Walaupun saya tidak dapat membandingkan dengan jurusan yang lain, namun saya meyakini bahwa mahasiswa dan alumni-alumni teknik geologi memiliki naluri seorang pembelajar dan peneliti. Semenjak kuliah di teknik geologi, rasa ingin tahu terhadap fenomena alam itu selalu ada. Saya selalu ingin mencari, meneliti dan menuliskannya. Bagi saya “Mata seorang geologist itu memang berbeda”. Dan untuk mempelajari “jurus-jurus” awal untuk mengasah mata geologist itu tidak perlu lama, cukup sekitar 2 tahun, setelah itu saya seakan-akan dapat melihat dunia baru, setiap perjalanan bagi saya adalah “interpretasi dan interpretasi” dan ketika melihat singkapan batuan dimanapun maka keingintahuan saya semakin bertambah, saya tidak mengetahui apakah “rasa” seperti itu juga terjadi pada mahasiswa JURUSAN YANG LAIN di kampus saya pada saat itu, terlepas dari itu kesimpulanya adalah bahwa Geologi mengajarkan saya untuk menjadi pembelajar, dan tentunya memang itulah tugas utama seorang mahasiswa. Rasa keingintahuan itulah juga yang membekas bagi kehidupan saya. Saya bersyukur bahwa hingga telah bekerjapun saya masih senang untuk belajar, membaca dan belajar apapun, meskipun untuk hal-hal yang dimasa lalu bagi saya adalah menakutkan.

Seorang ahli pernah berkata “jangan banyak bicara kalau tidak punya data”. Sebagai seorang mahasiswa geologi kita selalu dituntut untuk cek lapangan, sampling, analisis, interpratasi dan menulis. Melalui geologi pula lah sewaktu mahasiswa saya pribadi jadi hobi untuk mencari bahan, menganalisis, dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Menulis dan desain grafis, itulah hobi saya dahulu. Hobi-hobi tersebut pada saat itu saya salurkan melalui sebuah blog, website, maupun buletin himpunan saat itu, selain sebagai sarana belajar, juga sebagai sarana untuk saling mengenal dengan ahli-ahli geologi lain, dan berbagi ilmu kepada yang lain, semua hobi tersebut bagi saya adalah kenangan yang indah yang timbul dari kesenangan selama mendalami ilmu geologi.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: