jump to navigation

Transformasi Mahasiswa, dulu turun ke jalan, sekarang turun ke jalanan November 25, 2012

Posted by ahmad in home.
Tags: , , ,
trackback

Bersarkan hasil survei Taylor Nelson Soffres (TNS), tingkat pengangguran remaja yang putus sekolah di Indonesia mencapai 71 persen, dan itu terjadi pada usia 15-17 tahun (detiknews.com). Survei lainnya, menyatakan saat ini terdapat 230 ribu anak jalanan di Indonesia (data Kemensos). Harus diakui bahwa negara kita ini masih labil, masih punya banyak permasalahan yang kompleks di segala bidang. Dari semua permasalahan yang ada, salah satu yang termasuk paling fundamental yaitu dalam hal pendidikan.

Pengemis dan pengamen jalanan dari yang tadinya orangtua, kini berubah menjadi bocah-bocah cilik yang masih energik, ironisnya mereka yang sekolahpun tetap dihantui bayang-bayang ketakutan akan masa depan, lantas menyerah pasrah pada ketidakpastian walaupun jadi pengguran.

Masa depan negara ini berada ditangan para pemuda dan anak-anak negerinya. Oleh karena itu generasi-generasi masa depan negeri ini wajib kita selamatkan dari kebodohan. Membangun bangsa berarti mencerdaskan kehidupan bangsa. Tentu bukan hanya kewajiban pemerintah, namun semua lini, baik pemerintah, media (contohnya aksi Indonesia lintas.me) termasuk bagi para mahasiswa.

Menyapa anak jalanan

Pengalaman saya mengajar anak jalanan selama kurang lebih 4 bulan di sebuah perkampungan soliter di daerah purwokerto banyak membawa pelajaran. Berawal dari salah satu organisasi keislaman kampus, kami membentuk forum pengajar anak jalanan yang bernama “tombo ati”. Forum ini fokus mengajar dalam lingkup akademik, non akademik termasuk keislaman untuk anak seusia pelajar SD-SMP.

Lokasi perkampungan soliter tempat saya mengajar awalnya merupakan tempat berkumpulnya masyarakat pendatang dari luar purwokerto, namun disebabkan kurangnya pengawasan dalam hal pendataan dari pemerintah setempat, menjadikan semakin banyak orang yang tidak beridentitas masuk ke daerah ini, lambat laun daerah soliter ini menjadi perkampungan kumuh, Bahkan tempat inipun sering dijadikan daerah lokalisasi, sedangkan penduduknya menjadi pengemis jalanan, pengamen, dan pengangguran, tak terkecuali anak-anak remaja bahkan yang masih dibawah umur. Putus sekolah, langsung jadi pengemis jalanan.

Bukan masalah uang, tapi masalah mental !!

Sebelum saya masuk dan mengajar di daerah ini, pemerintah Kab. Banyumas beberapa kali mulai melakukan langkah-langkah konkrit untuk mengurangi jumlah pengangguran, diantaranya bantuan dana untuk usaha. Namun selama saya mengajar diasana, saya tidak melihat adanya perubahan profesi pada masyarakat dan termasuk anak-anak ini, mereka malah kembali pada kebiasaan mereka yaitu mengemis dan mengamen.

Hal ini lah yang menjadi fokus perhatian forum saat itu, nyatalah bahwa permasalahan daerah ini terletak pada segi mental, bukan uang. Oleh karenya kita memfokuskan pada anak-anak usia SD-SMP. Usia yang masih sangat terlalu labil, usia yang masih bisa dibentuk dan dicerdaskan.

Sistem pengajaran bukan hanya pada akademik tapi juga pembangunan mental dan akhlak. Karena Secara umum mereka sudah pandai membaca, menulis, tapi masih berprilaku serba yang instan-instan, enggan usaha, dan kurang terdidik dari segi prilaku maupun mental.

Potensial tapi rawan

Ya, dua kata ini yang menurut saya sangat menggambarkan kondisi remaja Indonesia saat ini. Kita mendengar bahwa pelajar-pelajar kita banyak berkiprah di kejuaraan Internasional akademik maupun non akademik, sebut saja contohnya Olimpiade fisika, matematika, kebumian, kejuaraan sepakbola, dan sebagainya. Namun kita pula banyak mendengar remaja kita ini selalu lekat dengan kata “galau”. Berkaca pada diri sendiri, kondisi teman-teman, dan pengalaman mengajar saya,  bahwa remaja kita cenderung punya beberapa sifat diantaranya:

mudah pustus asa, inginnya instan, mudah terprovokasi, tidak punya pendirian, bersifat soliter, segan bersaing, cenderung menjadi follower, bangga pada hal-hal baru namun tidak mendidik, apatis, tidak peka terhadap lingkungan.

Saya sangat yakin bahwa anak-anak negeri ini bisa cerdas, beradab, dan bermental baja. Anak-anak negeri kita sangat punya potensi untuk bersaing, namun potensinya itu harus digaris bawahi oleh mentalnya yang kuat dan akhlakul karimah, sehingga tidak terseret pada pergaulan yang salah.

Ciyus? Miapah? Boleh jadi itu ungkapan dari para remaja ababil membaca tulisan diatas. Tapi sebagai insan terdidik harusnya kita bertanya, lantas apa dan bagaimana solusinya?. Dulu kitapun semua tahu, bahwa penggerak semua perubahan di negara kita ini adalah para pemuda.

jika dulu mahasiswa sanggup merubah sistem kenegaraan kita, maka sekarang harusnya kita mampu merubah pola berfikir bangsa kita. Jika dulu para pelajar berusaha memerdekaan bangsa, maka sekarang saatnya membangun dan mencerdaskan bangsa. Dan jika dulu mahasiswa berteriak “merdeka” !, sekarang berteriaklah “ayo sekolah, ayo cerdaskan kehidupan bangsa” !!.

Komentar»

1. rezpector PMII - Januari 8, 2013

setuju dan bagus bacaan..lanjutkan🙂

2. grosir aksesoriss - April 11, 2013

ini baru referensi yang bagus,, transformasi remaja memang sebaiknya disertai peningkatan produktiftas dan kreatifitas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: